Jumat, 24 Januari 2014

AL-INSYA’ AT-THALABI WA GHAIR THALABI, AL-AMRU WA SIYAGIHI



AL-INSYA’ AT-THALABI WA GHAIR THALABI, AL-AMRU WA SIYAGIHI

A.  Insya’ Thalabi Wa Ghair Thalabi
Kalam Insya’ itu terbagi menjadi dua macam, yaitu thalabi dan ghoir tholabi. Insya thalabi adalah kalimat-kalimat yang digunakan untuk menghendaki keberhasilan sesuatu yang belum berhasil pada saat kehendak itu dikemukakan. Insya ghoir thalabi adalah kalimat yang tidak digunakan untuk menghendaki terjadinya sesuatu.
Insya’ thalabi dapat dibagi kedalam beberapa bagian diantaranya :
a.    Amar  ( kata Perintah )
Cintailah orang lain sebagaimana kamu mencintai dirimu !           
b.    Nahyi  ( Kata larangan )
Di antara fatwa al-Hasan r.a. adalah :
لا تَطْلُبْ من الجزاءِ إِلاَّ بقدرِ ما صَنعْتَ
Janganlah engkau menuntut balasan kecuali senilai apa yang kamu kerjakan.
c.    Istifham ( kata tanya )
Abuth-Thayyib berkata:
أَلاَ ما لسيفِ الدَّولةِ اليومَ عاتبًا
                                       فداه الورى َأَمْضَى السُّيُوفِ مَضَارِبَا                                      
Perhatikanlah, hari ini tidak ada seorang pun yang mencela Saefud Daulah. Semoga seluruh manusia menebusinya dengan pedang-pedang yang paling tajam.
d.   Tamanni ( kata untuk mengharapkan sesuatu yang sulit terwujud)
Hisan bin Tsabit berkata:
بَا ليْتَ شِعْرِيْ ولَيْتَ الطَّيْرَ تُخْبِرُنِى
ماكان بَيْنَ علىٍّ وَ ابْنِ عَفَّانا !                                          
Semoga syairku dan burung itu memberitahukan kepadaku apa yang terjadi antara Ali dan Ibnu Affan.

e.    Nida’ (kata yang berupa seruan)
Abuth-Thayyib berkata:
بَا مَنْ بعِزُّعليْنا أَنْ نُفارقهُمْ
وِجْدَانُنا كُلَّ شبئٍ بعْدَكُمْ عَدَمُ                             
Wahai orang yang bagi kami sulit berpisah dengan mereka, apapun yang kami dapatkan setelah (perpisahan dengan)-mu adalah tidak ada (bagi kami).

Insya’Ghoir Thalabi dapat dibagi menjadi beberapa bagian diantaranya:
a.    Ta’ajjub (kata yang menunjukkan rasa takjub)
Ash-Shimmah bin Abdullah berkata:
بِنَفْسِيَ تلك الأَرْضُ ما أَطْيَبَ الرُّبا !
وما أحْسن المُصْطَاف والمُتربَّعا                                       
Demi diriku, alangkah baiknya bumi yang tinggi itu dan alangkah indahnya sebagai tempat peristirahatan di musim panas dan musim semi.
b.    Al-mad-h wadz-dzamm (kalimat untuk menyatakan pujian dan celaan)
Al-Jahizh berkata tentang kitab:
أَمَّا بَعْدُ فَنِعْمَ البدِيْلُ مِنَ الزَّلَّةِ الإِعْتِذَارُ, وَبِئْسَ العِواضُ مِنَ التَّوْبةِ الإِسْرَارُ.
Setelah itu, maka sebaik-baiknya pengganti dan ketergelinciran adalah berdalih, dan sejelek-jeleknya pengganti dari tobat adalah terus-menerus melakukan maksiat.
c.    Qasam (sumpah)
Abdullah bin Thahir berkata:
لعَمْرُكَ ما بِالعقْلِ يُكْتَسَبُ الغِنى
ولا باكْتَسَبِ المَالِ يُكْتَسَبُ العَقْلُ                                  
Demi usiamu, kekayaan itu tidak dapat diperoleh dengan akal, sebagaimana akal pun tidak dapat diperoleh dengan harta.
d.   Tarajji (kalimat-kalimat yang didahului dengan la’alla, ‘asaa, dan sejenisnya)
a)    Dzur-Rummah berkata
لَعَلَّ انْحِدَارَ الدّمْعِ يُعْقِبُ راحَةً
مِنَ الوجْدِ أَوْ يَشْفِى شَجِيَّ البَلاَ بِلَ                                               
Barangkali cucuran air mata itu dapat menjadi penawar kerinduan atau dapat menyembuhkan kegelisahan dan kesusahan yang memenuhi dada.
b)   Seorang penyair berkata:
عسى سائِلٌ ذُوْ حَاجَةٍ إِنْ منعْتهُ
مِنَ اليوْمِ سُؤْلاً أَنْ يَكُوْنَ لهُ غَدُ                                    
Barangkali orang yang meminta kepadamu suatu permintaan dihari ini mempunyai kebutuhan ketika engkau tidak melayaninya, dikhawatirkan keadaannya berbalik, besok adalah hari untuknya.
e.    Kata-kata yang mengandung makna akad (transaksi), seperti kata bi’tu atau Isytaraitu.
B.  Al-Amru Wa Siyagihi
Amar adalah menuntut dilaksanakannya suatu pekerjaan oleh pihak yang lebih tinggi kepada pihak yang lebih tinggi kepada pihak yang lebih rendah.
Amar mempunyai empat macam redaksi, yaitu fi’il amar, fi’il mudhari’, yang didahului dengan lam amar, isim fi’il amar, dan mashdar yang menggantikan fi’il amar.
Kadang-kadang redaksi amar tidak digunakan untuk maknanya yang asli, melainkan kepada makna lain. Hal ini dapat diketahui melalui susunan kalimat. Makna lain tersebut adalah untuk irsyad (bimbingan), doa (permohonan), iltimas (tawaran), tamanni (harapan yang sulit tercapai), takhyir (pemilihan), taswiyah (menyamakan), ta’jid (melemahkan mukhathab), tahdid (ancaman), dan ibahah (kebolehan).
Contoh makna perintah yang hakiki.
خُذِ الكِتَابَ بِقُوَّةٍ .......... (مريم: 12)
Ambillah al-Kitab (Taurot) itu dengan sungguh-sungguh ! (QS Maryam: 12)
Contoh irsyad (bimbingan)
شَاوِرْ سِوَاكَ إِذا نَا بتْكَ نائِبَةٌ  يومًا وَإِنْ كُنْتَ مِنْ أَهْلِ المَشُوْرَاتِ
Bermusyawarahlah dengan orang lain ketika engkau tertimpa musibah pada suatu waktu sekalipun engkau termasuk ahli musyawarah.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar