AL-INSYA’
AT-THALABI WA GHAIR THALABI, AL-AMRU WA SIYAGIHI
A. Insya’
Thalabi Wa Ghair Thalabi
Kalam Insya’ itu
terbagi menjadi dua macam, yaitu thalabi dan ghoir tholabi. Insya thalabi
adalah kalimat-kalimat yang digunakan untuk menghendaki keberhasilan sesuatu
yang belum berhasil pada saat kehendak itu dikemukakan. Insya ghoir
thalabi adalah kalimat yang tidak digunakan untuk menghendaki terjadinya
sesuatu.
Insya’ thalabi dapat dibagi kedalam beberapa bagian
diantaranya :
a.
Amar ( kata Perintah )
Cintailah orang
lain sebagaimana kamu mencintai dirimu !
b. Nahyi ( Kata larangan )
Di antara fatwa al-Hasan r.a. adalah :
لا تَطْلُبْ من الجزاءِ إِلاَّ بقدرِ ما صَنعْتَ
Janganlah engkau
menuntut balasan kecuali senilai apa yang kamu kerjakan.
c.
Istifham
( kata tanya )
Abuth-Thayyib
berkata:
أَلاَ
ما لسيفِ الدَّولةِ اليومَ عاتبًا
فداه
الورى َأَمْضَى السُّيُوفِ مَضَارِبَا
Perhatikanlah,
hari ini tidak ada seorang pun yang mencela Saefud Daulah. Semoga seluruh
manusia menebusinya dengan pedang-pedang yang paling tajam.
d.
Tamanni
( kata untuk mengharapkan sesuatu yang sulit terwujud)
Hisan bin Tsabit
berkata:
بَا ليْتَ شِعْرِيْ ولَيْتَ الطَّيْرَ
تُخْبِرُنِى
ماكان بَيْنَ علىٍّ وَ ابْنِ عَفَّانا !
Semoga syairku
dan burung itu memberitahukan kepadaku apa yang terjadi antara Ali dan Ibnu
Affan.
e.
Nida’
(kata yang berupa seruan)
Abuth-Thayyib
berkata:
بَا مَنْ بعِزُّعليْنا أَنْ نُفارقهُمْ
وِجْدَانُنا كُلَّ شبئٍ بعْدَكُمْ عَدَمُ
Wahai orang yang
bagi kami sulit berpisah dengan mereka, apapun yang kami dapatkan setelah
(perpisahan dengan)-mu adalah tidak ada (bagi kami).
Insya’Ghoir
Thalabi dapat dibagi menjadi beberapa bagian diantaranya:
a.
Ta’ajjub
(kata yang menunjukkan rasa takjub)
Ash-Shimmah bin
Abdullah berkata:
بِنَفْسِيَ تلك الأَرْضُ ما أَطْيَبَ
الرُّبا !
وما أحْسن
المُصْطَاف والمُتربَّعا
Demi diriku,
alangkah baiknya bumi yang tinggi itu dan alangkah indahnya sebagai tempat
peristirahatan di musim panas dan musim semi.
b.
Al-mad-h
wadz-dzamm (kalimat untuk menyatakan pujian dan celaan)
Al-Jahizh
berkata tentang kitab:
أَمَّا بَعْدُ فَنِعْمَ البدِيْلُ
مِنَ الزَّلَّةِ الإِعْتِذَارُ, وَبِئْسَ العِواضُ مِنَ التَّوْبةِ الإِسْرَارُ.
Setelah itu,
maka sebaik-baiknya pengganti dan ketergelinciran adalah berdalih, dan
sejelek-jeleknya pengganti dari tobat adalah terus-menerus melakukan maksiat.
c.
Qasam
(sumpah)
Abdullah bin
Thahir berkata:
لعَمْرُكَ ما بِالعقْلِ يُكْتَسَبُ
الغِنى
ولا باكْتَسَبِ
المَالِ يُكْتَسَبُ العَقْلُ
Demi usiamu,
kekayaan itu tidak dapat diperoleh dengan akal, sebagaimana akal pun tidak
dapat diperoleh dengan harta.
d. Tarajji
(kalimat-kalimat yang didahului dengan la’alla, ‘asaa, dan sejenisnya)
a)
Dzur-Rummah
berkata
لَعَلَّ
انْحِدَارَ الدّمْعِ يُعْقِبُ راحَةً
مِنَ
الوجْدِ أَوْ يَشْفِى شَجِيَّ البَلاَ بِلَ
Barangkali
cucuran air mata itu dapat menjadi penawar kerinduan atau dapat menyembuhkan
kegelisahan dan kesusahan yang memenuhi dada.
b)
Seorang
penyair berkata:
عسى
سائِلٌ ذُوْ حَاجَةٍ إِنْ منعْتهُ
مِنَ
اليوْمِ سُؤْلاً أَنْ يَكُوْنَ لهُ غَدُ
Barangkali orang
yang meminta kepadamu suatu permintaan dihari ini mempunyai kebutuhan ketika
engkau tidak melayaninya, dikhawatirkan keadaannya berbalik, besok adalah hari
untuknya.
e. Kata-kata
yang mengandung makna akad (transaksi), seperti kata bi’tu atau Isytaraitu.
B. Al-Amru Wa Siyagihi
Amar adalah menuntut dilaksanakannya suatu pekerjaan oleh
pihak yang lebih tinggi kepada pihak yang lebih tinggi kepada pihak yang lebih
rendah.
Amar mempunyai empat macam redaksi, yaitu fi’il amar,
fi’il mudhari’, yang didahului dengan lam amar, isim fi’il amar, dan mashdar
yang menggantikan fi’il amar.
Kadang-kadang redaksi amar tidak digunakan untuk maknanya
yang asli, melainkan kepada makna lain. Hal ini dapat diketahui melalui susunan
kalimat. Makna lain tersebut adalah untuk irsyad (bimbingan), doa (permohonan),
iltimas (tawaran), tamanni (harapan yang sulit tercapai), takhyir (pemilihan),
taswiyah (menyamakan), ta’jid (melemahkan mukhathab), tahdid (ancaman), dan
ibahah (kebolehan).
Contoh makna perintah yang hakiki.
خُذِ الكِتَابَ بِقُوَّةٍ .......... (مريم: 12)
Ambillah al-Kitab (Taurot) itu dengan sungguh-sungguh ! (QS Maryam: 12)
Contoh irsyad (bimbingan)
شَاوِرْ سِوَاكَ إِذا نَا بتْكَ نائِبَةٌ يومًا وَإِنْ كُنْتَ مِنْ أَهْلِ المَشُوْرَاتِ
Bermusyawarahlah dengan orang lain ketika engkau tertimpa musibah pada
suatu waktu sekalipun engkau termasuk ahli musyawarah.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar